www.AlvinAdam.com

Berita 24 Bengkulu

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Tradisi Warga Gorontalo: Mandi Rempah Menyambut Ramadhan

Posted by On 07.48

Tradisi Warga Gorontalo: Mandi Rempah Menyambut Ramadhan

Martin Ali (63) warga Huntu selatan Bone Bolango membelah limu tutu (jeruk purut) sebagai salah satu bahan yang digunakan untuk ramuan Bongo yiladuKOMPAS.COM/ROSYID AZHAR Martin Ali (63) warga Huntu selatan Bone Bolango membelah limu tutu (jeruk purut) sebagai salah satu bahan yang digunakan untuk ramuan Bongo yiladu

GORONTALO, KOMPAS.com â€" Bau harum limu tutu (jeruk purut) sejenak menebar ke seluruh ruang dapur setelah pisau tajam Martin Ali (63) membelah menjadi dua buah ini.

Tak berapa lama kemudian, tangan Martin Ali dengan cekatan merajang daun pandan, limu tutu, onumo ( nilam), baramukusu (sereh), daun ulu-ulu (sejenis kemangi berwarna coklat), dan daun alawahu (kunyit).

Wanita pensiunan Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo ini lalu mencampur semua rajangan daun dengan parutan kelapa dalam satu belanga. Aroma aneka rempah-rempah terasa harum di tengah hari yang mulai memanas.

Awaluddin, anak Martin kemudian membawakan bara tempurung dan memasukkannya ke dalam belanga yang berisi campuran rempah, segera ia menutup rapat-rapat belanga ini.

Tidak lama kemudian onggokan bara tempurung yang panas ditambahkan, berulang kali dilakukan hingga aroma rajangan daun makin menggoda penciuman yang ada di dalam rumah ini.

Baca juga: Sambut Penjelajah Hutan, Mandi Rempah Tradisional Akan Hadir di Lombongo

“Setiap tahun saya selalu membuat ramuan ini, kami biasa menyebutnya dengan nama Bongo Yiladu. Ramuan ini kami gunakan untuk mencuci rambut atau keramas menjelang bulan Ramadhan,” kata Martin Ali, warga Desa Huntu Selatan, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (19/5/2018).

Keterampilan Martin Ali membuat ramuan ini didapat dari leluhurnya, ia mewarisi dari bapak ibunya, Ali Pu’o dan Aisyah Ilonunu, juga dari kakek neneknya, Imrana Ilonunu dan Apipa Madina.

Martin ali mengaku, ia selalu ingat pesan ibunya untuk menjaga dan meneruskan tradisi baik warisan leluhur, salah satunya adalah Bongo Yiladu.

Ia mengisahkan masa kanak-kanaknya yang menyenangkan hidup di desa, salah satunya saat menghadapi bulan Ramadan.

Bersama saudara-saudaranya, Ramadhan adalah bulan penuh warna-warni. Berbagai kebiasaan dilakukan pada awal bulan ini, Bongo Yiladu, Langgilo dan Bada’a.

Sebagaimana gadis Gorontalo lainnya, Martin Ali selalu pengajaran dan nasihat dari orang tua untuk taat beribadah dan menjalankan puasa Ramadhan. Pada bulan ini segala amal kebaikan akan dilipatgandakan, ini bulan spesial, bulan penuh barokah.< /p>

Baca juga: Selama Ramadhan, Operasional Tempat Hiburan Malam Dibatasi

“Sejak dulu tanah Gorontalo sudah dikenal sebagai daerah budaya yang memiliki semboyan Adati lo hula-hula to syaraa, syaraa lo hula-hula to quruani atau adat bersendikan syara, syara bersendikan Al-Quran,” jelas Martin Ali.

Karena dianggap bulan khusus, maka masyarakat Gorontalo menyambutnya dengan khusus pula. Sedari awal mereka sudah menyiapkan semua hal yang terkait dengan bulan Ramadan, baju, sarung, sprei, cipu (mukena), harus suci, bersih dan harum.

“Bongo yiladu inilah kami siapkan untuk mencuci rambut agar bersih dan harum sepanjang hari,” ujar Martin Ali.

Jika tidak melakukan prosesi bongo yiladu, orang-orang tua mencemooh gadisnya dengan sebagai orang yang mencuci rambut dengan darah babi.

“Itu dulu, sekarang sudah tidak ada cemoohan begini,” kata Martin Ali sambil tertawa renyah.

Bongo yiladu memang dikhususk an untuk merawat diri sehingga proses pembuatannya harus lebih hati-hati agar bisa mendapatkan aroma yang paling harum.

Siapa yang melakukan tradisi bongo yiladu akan tercium harum dari kejauhan, dan ini akan menyenangkan orang di sekitarnya.

Sedangkan perlakuan untuk perlengkapan ibadah seperti sajadah, baju, cipu (mukena), sarung, atau bahkan sprei dan kain lainnya, masyarakat Gorontalo sudah menyiapkan tradisi Langgilo, yaitu merendam perlengkapan tadi ke dalam ramuan khusus yang tidak jauh beda dengan bongo yiladu.

“Untuk langgilo, bahan yang digunakan adalah daun jeruk, kelapa parut, daun pandan, kulit jeruk, onumo, sereh, daun ulu-ulu, dan daun kunyit,” ujar Martin Ali.

Bedanya, bahan dan rempah dalam prosesi langgilo ini direbus hingga mengeluarkan aroma yang harum. Air rebusan ini kemudian digunakan untuk merendam perlengkapan agar mendapatkan bau yang wangi dan segar.

Diakui Martin Ali, untuk mendapatkan bahan-bahan yang digunakan saat ini tidak semudah dulu. Sekarang tradisi ini mulai ditinggalkan sejak ada produk pabrikan seperti berbagai jenis sabun atau sampo.

Pada masa gadisnya, Martin Ali mendapatkan paket rempah-rempah ini di Pasar Kamis di Tapa. Para petani dari dataran tinggi yang berangkat ke Tapa membawa rempah-rempah ini. Satu paket ini sudah berisi semua bahan yang diperlukan.

Baca juga: Tradisi Jalan Kaki Masyarakat Bonokeling di Banyumas dalam Menyambut Ramadhan

“Bongo yiladu dan langgilo bukan proses yang menggunakan bahan kimia, semua memakai tanaman tradisional,” kata Martin Ali.

Tradisi Bongo yiladu dan langgilo merupakan kekayaan budaya Gorontalo, yang menjadi bagian penting budaya Indonesia.

Tanah yang subur, rempah yang berlimpah dan tradisi luhur nenek moyang mewariskan kebiasaan yang baik dari generasi ke generasi di setiap awal Ramadan.

Martin Ali kembali merajang dedaunan rempah yang ia kumpulkan dari kebun belakang ruamhnya. Di halaman depan dan samping rumah, segala tanaman hias yang dirawatnya tumbuh subur, seperti taman firdaus di bumi Gorontalo.

Kesejukan dan udara segarnya memberi kenyamanan siapa saja yang melewati rumah ini. Huntu Selatan yang permai, negeri para petani yang penuh syukur.

Ramadan adalah bulan penuh anugrah, bulan penuh ampunan, di bulan ini Martin Ali dan keluarganya menyajikan yang spesial, yang hanya ada saat Ramadhan tiba.

Sayup-sayup suara azan terbawa angin dari kejauhan, Martin Ali bergegas pamit menuju masjid, sekelabat ia mengenakan cipu putihnya, meninggalkan bau harum semerbak wangi.nBersama Muhammad Ahmad (65), suaminya, mereka menyusuri jalan kampung dinaungi pepohonan penyejuk.

Pesona tradisi mengolah rempah-rempah Gorontalo, memuliakan kehidupan di dunia untuk meraih akhirat yang kekal. Marhaban ya Ramadhan.


Berita Terkait

Tradisi Jalan Kaki Masyarakat Bonokeling di Banyumas dalam Meny ambut Ramadhan

Warga Kudus Sambut Ramadhan dengan Tradisi Dandangan

Mabbaca-baca, Tradisi Unik Sambut Ramadhan Masyarakat Polewali Mandar

Makan Telur Ikan Mimi, Tradisi Warga Kendal Sambut Ramadhan

Tonggeyamo, Tradisi Tua Gorontalo untuk Menentukan Awal Ramadhan

Terkini Lainnya

Oknum Guru Diduga Cabuli Muridnya di Palembang

Oknum Guru Diduga Cabuli Muridnya di Palembang

Regional 19/05/2018, 21:42 WIB 'Setiap Ada Bom, Publik Buru-buru Bilang Intelijen Kecolongan...'

"Setiap Ada Bom, Publik Buru-buru Bilang Intelijen Kecolongan..."

Nasional 19/05/2018, 21:32 WIB Sosialisasikan 'Safety Riding', Polisi Gresik Bergaya bak 'Superhero'

Sosialisasikan "Safety Riding", Polisi Gresik Bergaya bak "Superhero"

Regional 19/05/2018, 21:28 WIB AHY dan Sandiaga Bertemu Jajaki Koalisi Pilpres 2019

AHY dan Sandiaga Bertemu Jajaki Koalisi Pilpre s 2019

Nasional 19/05/2018, 21:19 WIB Jarak Puskesmas 20 Km, Seorang Ibu Meninggal Dunia saat Melahirkan

Jarak Puskesmas 20 Km, Seorang Ibu Meninggal Dunia saat Melahirkan

Regional 19/05/2018, 21:09 WIB Menolak Saat Diajak Berpelukan, Pria Ini Dihajar Kekasihnya

Menolak Saat Diajak Berpelukan, Pria Ini Dihajar Kekasihnya

Internasional 19/05/2018, 20:58 WIB Trump: AS Bakal Tarik Bantuan dari Suriah Barat

Trump: AS Bakal Tarik Bantuan dari Suriah Barat

Internasional 19/05/2018, 20:57 WIB Program Deradikalisasi BNPT Dianggap Tak Jelas Arahnya

Program Deradikalisasi BNPT Dianggap Tak Jelas Arahnya

Nasional 19/05/2018, 20:48 WIB Setelah Pengerjaan Relokasi Pipa, Suplai Air Palyja Berangsur Normal

Setelah Pengerjaan Relokasi Pipa, Suplai Air Palyja Berangsur Normal

Megapolitan 19/05/2018, 20:48 WIB Simpang Duren Tiga Yang Sebelumnya Ditutup Kini Bisa Dilintasi

Simpang Duren Tiga Yang Sebelumnya Ditutup Kini Bisa Dilintasi

Megapolitan 19/05/2018, 20:39 WIB Moqtada al-Sadr, Ulama dan Pemimpin Milisi Pemenang Pemilu Irak

Moqtada al-Sadr, Ulama dan Pemimpin Milisi Pemenang Pemilu Irak

Internasional 19/05/2018, 20:29 WIB Komnas HAM Tak Sepakat Pengaktifan Kembali Koopsusgab TNI Diatur Perpres

Komnas HAM Tak Sepakat Pengaktifan Kembali Koopsusgab TNI Diatur Perpres

Nasional 19/05/2018, 20:26 WIB Kronologi Tewasnya Anak Pemilik Rumah Makan Padang Saat Kebakaran di Kelurahan Duren Tiga

Kronologi Tewasnya Anak Pemilik Rumah Makan Padang Saat Kebakaran di Kelurahan Duren Tiga

Megapolitan 19/05/2018, 20:22 WIB

Pengaktifan Kembali Koopsusgab Dianggap Sesuai UU Pertahanan Negara dan UU TNI

Nasional 19/05/2018, 20:14 WIB Warga Minta Pembatas yang Tutup Simpang Mampang Prampatan Dibuka

Warga Minta Pembatas yang Tutup Simpang Mampang Prampatan Dibuka

Megapolitan 19/05/2018, 20:02 WIB Load MoreSumber: Google News | Berita 24 Gorontalo

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »